Terpaku aku jatuh terduduk di atas rerumputan yang basah karena embun musim dingin tak bersalju. Seribu pesona gugusan bintang di langit menjadi saksi kelunya lidahku. Udara dingin yang menusuk tulang rusuk membuat kedua tanganku yang berlapis sarung tangan wol pemberiannya mati rasa, beku. Mataku tak berkedip ketika memandang pantulan cahaya sang rembulan di atas danau yang mulai membeku dengan cepat itu. Ah, sungguh indah kekuasaan sang Pencipta. Hatiku bergetar memandang betapa sempurnanya pantulan cahaya rembulan itu. Memanggil semua memori pahit dan manis yang pernah aku dan dia pernah lewati. Khayalanku melayang cepat ke masa-masa di mana dia membawaku berlari menyusuri bukit berumput dan berbunga ini. Mataku kembali dengan cepat menjelajahi wilayah sunyi di sekelilingku. Ah, tidak banyak perubahan yang terjadi. Kuputuskan untuk memlepaskan sarung tangan ungu bertuliskan "Murasaki no tsuki" dari telapak tangan kananku. Seketika udara dingin menusuk mematikan syaraf di ujung setiap jariku yang kian memucat. Kuambil amplop surat darinya yang kutemukan di meja kamarnya di villa pagi ini. Pagi di mana aku baru saja tiba kembali ke villa kenangan kami setelah dua tahun kami tidak kembali.
"Luna Nila, aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Tapi, maafkan aku. Maafkan aku yang selama ini telah berbohong di hadapanmu. Kesalahanku mungkin terlalu besar untuk dimaafkan. Aku tahu, selama ini aku salah. Namun, sadarkah kamu bagaimana aku menyayangimu? Aku tak ingin menyakitimu lebih dalam. Maka, izinkanlah aku pergi. Izinkanlah aku merelakanmu untuk menemukan seseorang yang jauh lebih pantas bersamamu. Maafkan aku."
Bersama surat perpisahan itu aku menemukan sarung tangan wol "Murasaki no tsuki" ini. Aku masih bisa merasakan bagaimana dia meletakkannya di meja itu setahun yang lalu. Setahun setelah pantulan sinar rembulan memukau mata kami di danau yang sama.
Baru kemarin. Baru kemarin aku mengetahuinya. Baru kemarin aku menyadarinya. Betapa bodohnya aku. Penantian selama dua tahun yang sia-sia. Penantian berurai air mata yang tidak ada artinya. Ingin rasanya aku menggapai rembulan malam ini. Membawanya masuk ke dalam relung hatiku yang hampa dan mati rasa. Air mata sudah tidak ada gunanya untuk mengusir gundah ini.
Perlahan jari tangan kananku menyusuri rerumputan beku di sampingku. Membiarkan sensasi syaraf yang berteriak mulai mati. Dapat kulihat dengan jelas betapa kukuku mulai memucat seiring berjalannya waktu. Dengan susah payah aku menyuruh jari-jari beku tangan kananku melepaskan sarung tangan "Murasaki no tsuki" dari jari-jari tangan kiriku yang mulai berteriak kedinginan. Aku pun hanya tersenyum pahit memandang sepasang sarung tangan di atas pangkuanku. Andaikan aku menyadarinya terlebih dahulu. Bodoh, betapa bodohnya aku.
Kembali aku memandang pantulan cahaya rembulan di danau yang sudah setengah membeku itu. Sembari melipat kembali surat darinya, aku tersenyum memandang ke arah gugusan-gugusan bintang malam ini. Terima kasih kalian telah setia menemani dan mengalah kepada sang rembulan malam ini untuk bersinar. Aku bersimpuh kembali menatap pantulan rembulan malam itu. Pantulannya perlahan berubah menjadi keunguan di atas lapisan tipis es yang rapuh. Sama seperti dua tahun lalu. Kini, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa memandang indahnya kuasa sang Pencipta malam ini. Mungkin besok, atau mungkin sampai danau ini selesai membeku.