Senin, 03 Oktober 2011

Falling

I fell so bad. I climbed so hard until I reached it. Yeah, one step near the summit. Then I lost my last step. I fell so hard. Everything seemed to be lost. I lost control. I couldn't grab on something. I fell and fell off a cliff. I lost my strength even to raise my head. I'm badly injured.

Everything started when I get up to study in the really early morning. I ended up my study for half and an hour. I login into my mobile facebook that I faced something terrible. My body was all trembling when I stand up to turn my laptop on to confirm what has happened. When I figured that it was real, I was shaking that I call my buddy. I managed to hold my feelings that I didn't want to make my mother worry until I went to school.

That was the first day of my mid semester exam. When I got the terrible news. When my studies for half and an hour vanished instantly within a minute. When I hug my close friend and share that bad news. When I couldn't hold my feeling anymore. When my tears fell as I fell.

But that day, when a new deep wound was created, I realize something. That a human may make some plans,  human may think that what one wants is what one need. But, behind all of them God knows what's the best for humans. What one wants may not be what one needs. And I believe that. That God has much much better plans for me. And my heart told me to stand up and raise my head because God, Allah SWT is always with me how bad I fall or how high I jump.

Minggu, 21 Agustus 2011

Murasaki no tsuki (紫の月) [extended version]

Terpaku aku jatuh terduduk di atas rerumputan yang basah karena embun musim dingin tak bersalju. Seribu pesona gugusan bintang di langit menjadi saksi kelunya lidahku. Udara dingin yang menusuk tulang rusuk membuat kedua tanganku yang berlapis sarung tangan wol pemberiannya mati rasa, beku. Mataku tak berkedip ketika memandang pantulan cahaya sang rembulan di atas danau yang mulai membeku dengan cepat itu. Ah, sungguh indah kekuasaan sang Pencipta. Hatiku bergetar memandang betapa sempurnanya pantulan cahaya rembulan itu. Memanggil semua memori pahit dan manis yang pernah aku dan dia lewati bersama. Khayalanku melayang cepat ke masa-masa di mana dia membawaku berlari menyusuri bukit berumput dan berbunga ini. Mataku kembali dengan cepat menjelajahi wilayah sunyi di sekelilingku. Ah, tidak banyak perubahan yang terjadi.
Sekelebat memori terbang berputar dalam anganku. Seperti bayang-bayang impian indah yang tak berujung. Warna-warna lembut mengindahkan dan menyilaukan padanganku. Tepat dua tahun yang lalu di tempat dan waktu yang sama dia menuntunku berjalan perlahan di antara dinginnya hembusan angin musim dingin menuju sebuah tempat di dekat sebuah pohon maple.
“Hey! Kita mau ke mana? Aku takut!” seruku kepadanya yang menggenggam erat tangan kananku seraya berjalan hati-hati di tengah gulita malam. “Ah, lihat saja nanti. Tidak akan seru jika aku beritahu.”, jawabnya sembari mempercepat langkahnya. “Kenapa harus terburu-buru? Dan kenapa harus selarut ini? Ini sudah nyaris tengah malam!”, rengekku lagi sembari terus mengawasi sekelilingku yang gelap. “Lihat! Di sana! Sebentar lagi kita sampai!”, serunya sembari menunjuk ke suatu tempat tak jauh dari tempat kita berjalan. Kupicingkan mataku untuk memperjelas pandanganku terhadap tempat yang dia tunjuk. Sebuah pohon maple yang berukuran sedang dengan latar belakang danau yang biasa terlihat dari beranda villa kami. Tak terasa kami telah sampai dibawah pohon maple yang sudah meranggas terkena dinginnya udara.
“Nah, ini dia tempatnya. Untung kita belum terlambat. Mungkin seperempat jam lagi.”, ujarnya sembari membimbingku untuk duduk di atas rerumput yang membeku. “Kita mau ngapain di sini?”, tanyaku sembari merapatkan syal ungu muda kesayanganku. “Tunggu saja nanti. Ini adalah malam terbaik untuk melihatnya di setiap tahun.”, jawabnya sambil tersenyum simpul. “Tapi di sini dingin sekali. Tsumetai desu ne. Sarung tanganku nampaknya kurang tebal untuk menghalau dingin malam ini.”, keluhku sembari menyusupkan kedua tanganku yang terasa membeku ke balik ke dua saku jaketku yang hangat. “Hmm... tunggu sebentar di sini ya. Aku akan kembali dalam lima menit.”, katanya sembari bangkit dan berlari ke arah hutan. “Hey! Chotto matte! Tunggu sebentar! Kamu mau ke mana?”, seruku sedikit panik. “Matte kudasai, Murasaki no Tsuki!”, jawabnya dari kejauhan. Huh, dia selalu menggodaku dengan nama itu. Dia tahu pasti bahwa ibuku adalah seorang Bali dan ayahku seorang Jepang tulen. Dan dia tahu pasti aku sudah belajar Bahasa Jepang setahun belakangan sebelum kami berangkat ke Eropa.
“Hey! Jangan melamun saja!”, serunya mengagetkanku yang sedang memikirkan kedongkolanku tadi. “Ah! Kamu ini mengagetkanku saja.”, kataku sembari menunjukkan wajah manyun. “Hahaha... Just kidding, Nila...” katanya sembari meletakkan setumpuk kayu kering yang dia dapatkan di hutan tadi. Aku memperhatikan gerak-geriknya yang mempersiapkan api unggun di atas rerumputan beku di depanku. Dia mengeluarkan sekotak korek api dari sakunya. Api pun perlahan menjalari tiap sudut dari kayu-kayu itu. Tanpa ragu aku mengeluarkan kedua tanganku dan meletakkannya di atas kedua lututku. “Atatakai desu ne. Hangat sekali.”, ujarku pelan sembari memandang liuk api yang perlahan menghabiskan kayu-kayu, merubahnya menjadi bara. “Hangatkanlah dirimu sebelum api ini aku padamkan.”, katanya perlahan sembari memandang langit yang perlahan mulai sedikit terang di balik pegunungan jauh di seberang danau. “Doushite? Kenapa? Kenapa harus dipadamkan? Ini kan sudah hangat.”, timpalku sedikit tidak setuju. “The fire will not let us to see the beauty of tonight’s sight. Akan terlalu terang dengan adanya api.”, ujarnya ringan sembari tersenyum kepadaku. Mata coklat mudanya yang tertimpa merahnya cahaya api terlihat sangat teduh dan hangat. Aku merasakan pipiku mulai menghangat. Aku sadar bahwa pipimu mulai bersemu merah. Dengan cepat aku memanglingkan wajahku dari wajahnya. “Ya, tak apa. Terserah kau sajalah.”, kataku kepadanya sedikit tertahan. “Baiklah kalau begitu. Rapatkan lagi jaketmu.”, katanya sambil mulai menginjak-injak bara api yang mulai meredup itu.
Gelap dan dingin menusuk kembali merayap di sekeliling kami. Aku kembali gelisah. “Jadi, apa yang kita nanti?”, tuntutku tak sabar. “Lima menit lagi.”, ujarnya ringan. Kemudian aku merasakan sebuah kain menutupi penglihatanku. Seketika aku terbutakan oleh kegelapan yang lebih pekat. “Hey! Apa ini?”, seruku terkejut. “Kejutan, tunggulah.”, bisiknya pelan di telingaku yang membuatku merasa kegelian. Aku hanya diam saja menanti. Satu menit, dua menit, empat menit, enam menit. “Katamu hanya lima menit!”, tuntutku lebih tidak sabar lagi. “Awan-awan mengganggu sedikit. Sabarlah. Beberapa menit lagi.”, sahutnya yang terdengar kira-kira beberapa langkah di samping kananku. Tiga menit kemudian, aku merasakan nafasnya yang panas di belakangku. Dia agaknya akan melepaskan kain yang menutupi mataku. Aku sudah tidak sabar sampai tak bisa bernafas. Kemudian aku sudah bisa merasakan kembali mataku.
Perlahan aku mulai membuka mataku. Butuh satu menit untuk menyesuaikan pandanganku dari buramnya kegelapan. Detik berikutnya aku memandang danau di depanku. Ada sesuatu berwarna putih keperakan yang berpendar di permukaannya yang tenang dan dingin. Butuh sepuluh detik bagiku untuk menyadari bahwa itu bukanlah sebuah benda melainkan pantulan benda lain di langit. Sedetik kemudian aku telah memalingkan pandanganku ke arah langit. Bulan. Ya, bulan putih keperakan yang besar bergantung anggun di langit. Indahnya membuatku tak bisa berkata apa pun. Sungguh indah kuasa Sang Pencipta. Itu sungguh hampir tidak dapat dipercaya. Dua menit lamanya aku mengagumi indahnya bulan malam itu. Semenit kemudian aku mengarahkan pandanganku 100 meter ke samping kiriku. Dia telah berpindah posisi. Aku bisa merasakan bagaimana dia pun mengagumi indahnya kuasa Sang Pencipta. Aku melihat rambut hitamnya berkilau tertimpa cahaya keperakan, wajah putihnya tampak bersinar di kejauhan. Aku pun tertegun, betapa selama ini aku tidak menyadarinya. Jantungku berdegup kencang, pipiku memanas.Seketika aku kembali memalingkan pandanganku ke arah danau di mana bayangan bulan menyilaukan mataku.
“Indah, bukan?”, katanya yang membuatku tersentak. “Ibuku pernah membawaku kemari beberapa tahun yang lalu. Di sini lah aku biasa merenung dan berpikir. Dan setiap tahunnya aku menikmati indahnya bulan sendirian. Kemudian aku bertemu denganmu dan aku ingin kamu juga menikmatinya.”, ceritanya sembari terus tersenyum. Mempesona bagaikan malaikat yang menjelma sebagai manusia. Aku hanya mengangguk dalam renunganku. “Kireii desu ne...”, gumamku pelan. Kemudian kami hanya menghabiskan setengah jam berikutnya dalam sunyi renungan.
Setengah jam kemudian aku menyadari pendar keperakan itu perlahan memudar. Aku sedikit kecewa memandangi permukaan danau yang mulai membeku itu. Namun dia telah berdiri di sampingku dan membisikanku sesuatu. “Tenanglah, akan ada sesuatu yang lebih cantik sebentar lagi.” Aku pun hanya mengangguk. Kemudian aku menunggu selama lima menit. Perlahan pendar keperakan itu berganti menjadi pendar warna yang baru. Hanya dalam waktu sepuluh menit kemudian pendar keperakan itu berganti menjadi pendar keunguan. Aku mengalihkan pandanganku ke langit. “Murasaki no Tsuki.”, ujarku tak bersuara. Tak sanggup aku menggambarkan indahnya bulan ungu malam itu. Setengah jam lamanya kami menikmati indahnya kuasa Sang Pencipta. Sampai permukaan danau yang memantulkan pendar keunguan itu setengah perjalanan dalam proses pembekuan.
“Ayo kita pulang, Nila.” Sejurus kemudian aku menyadari tangannya telah terulur di sampingku. Aku terperanjat melihat senyum teduhnya di antara pendar keunguan yang menimpa wajahnya, indah nan tampan. Tanpa berkata apa pun aku meraih tangannya dan bangkit mengikutinya berjalan perlahan meninggalkan pemandangan yang tiada duanya.
Mataku kembali mengerjap sejurus dengan kelebatan kenangan indah yang memudar itu. Aku tersentak saat aku kembali ke dunia nyata yang dingin menusuk. Aku sendirian di sini. Tidak ada tangan hangat yang menyalakan api unggun dan menemaniku menunggu terbitnya sang bulan.
Kuputuskan untuk melepaskan sarung tangan ungu bertuliskan "Murasaki no tsuki" dari telapak tangan kananku. Seketika udara dingin menusuk mematikan syaraf di ujung setiap jariku yang kian memucat. Kuambil amplop surat darinya yang kutemukan di meja kamarnya di villa pagi ini. Pagi di mana aku baru saja tiba kembali ke villa kenangan kami setelah dua tahun kami tidak kembali.
"Luna Nila, aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Tapi, maafkan aku. Maafkan aku yang selama ini telah berbohong di hadapanmu. Kesalahanku mungkin terlalu besar untuk dimaafkan. Aku tahu, selama ini aku salah. Namun, sadarkah kamu bagaimana aku menyayangimu? Aku tak ingin menyakitimu lebih dalam. Maka, izinkanlah aku pergi. Izinkanlah aku merelakanmu untuk menemukan seseorang yang jauh lebih pantas bersamamu. Maafkan aku."
Bersama surat perpisahan itu aku menemukan sarung tangan wol "Murasaki no tsuki" ini. Aku masih bisa merasakan bagaimana dia meletakkannya di meja itu setahun yang lalu. Setahun setelah pantulan sinar rembulan memukau mata kami di danau yang sama.
Baru kemarin. Baru kemarin aku mengetahuinya. Baru kemarin aku menyadarinya. Betapa bodohnya aku. Penantian selama dua tahun yang sia-sia. Aku sadar dia tak akan pernah kembali lagi meskipun hanya satu detikuntuktersenyum kepadaku. Penantian berurai air mata yang tidak ada artinya. Ingin rasanya aku menggapai rembulan malam ini. Membawanya masuk ke dalam relung hatiku yang hampa dan mati rasa. Air mata sudah tidak ada gunanya untuk mengusir gundah ini.
Perlahan jari tangan kananku menyusuri rerumputan beku di sampingku. Membiarkan sensasi syaraf yang berteriak mulai mati. Dapat kulihat dengan jelas betapa kukuku mulai memucat seiring berjalannya waktu. Dengan susah payah aku menyuruh jari-jari beku tangan kananku melepaskan sarung tangan "Murasaki no tsuki" dari jari-jari tangan kiriku yang mulai berteriak kedinginan. Aku pun hanya tersenyum pahit memandang sepasang sarung tangan di atas pangkuanku. Andaikan aku menyadarinya terlebih dahulu. Bodoh, betapa bodohnya aku.
Kembali aku memandang pantulan cahaya rembulan di danau yang sudah setengah membeku itu. Sembari melipat kembali surat darinya, aku tersenyum memandang ke arah gugusan-gugusan bintang malam ini. Terima kasih kalian telah setia menemani dan mengalah kepada sang rembulan malam ini untuk bersinar. Aku bersimpuh kembali menatap pantulan rembulan malam itu. Pantulannya perlahan berubah menjadi keunguan di atas lapisan tipis es yang rapuh. Sama seperti dua tahun lalu. Kini, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa memandang indahnya kuasa sang Pencipta malam ini. Mungkin besok, atau mungkin sampai danau ini selesai membeku

Teladan Jayamahe

SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta. Or maybe I should translate it into: 1 Teladan State Senior High School of Yogyakarta. Yes, that's where I'm currently studying now. My beloved high school. One of the most favorites high school in Yogyakarta Special Region and also in the country. Located on Jalan H.O.S. Cokroaminoto 10 Yogyakarta, Indonesia since colonial era as Algemere Midlebaar School (AMS) Afdeeling Yogyakarta. Until December 16th 1957 it became SMA Teladan or Teladan High School.


SMA N 1 Teladan Yogyakarta well-known as SMA Teladan is a international standardized high school. It also the center of Cambridge University in Yogyakarta. It has religious atmosphere of Islam and it centered on Al-Uswah mosque.


By the way, "Teladan" word itself means "example, model". The students here are expected to be a good example for people around them.


What's the best from my school is how it taught its students to learn about how to become great men who succeed not only in this world but also to struggle in the afterlife. You know what I meant.


The students taught how to be humble and respectful also smart. There are a lot of organizations and extracurriculars in my school to help students to improve their skills. The students also achieve a lot achievements in many fields.


I feel so much lucky to be a student here.

TELADAN . . . JAYAMAHE!!

Guardian Angel (short fictioal story)

sebenarnya ini cerpen yang aku buat untuk tugas bahasa Indonesia dua tahun lalu, Enjoy :)


Aku membanting pintu kamarku yang gelap. Aku urung menyalakan lampu kamarku. Samar aku bisa melihat gantungan dinding bertuliskan, Shrikanta Anteros Damar Derry’s room yang terbuat dari fosfor berpendar dalam gelap. Kemudian membanting kunci motor ke meja belajarku dan tas ke rak di samping lemari pakaian. Pikiranku seakan meninggalkanku untuk sementara waktu. Lantas aku membanting diriku di atas kasur kamarku. Aku memandang ke bintang-bintang di langit malam ini dibalik kaca pintu balkon kamarku. Sejenak aku merasakan cahayanya menarikku.
            “Argh!!”, teriakku frustasi. Aku merasa sangat kacau. Fisikku lelah, begitu pula pikiranku. Aku sangat ingin memejamkan mataku sebentar. Namun, usahaku percuma saja, karena aku tidak bisa. Lalu aku bangkit dan membuka pintu kaca balkon kamarku. Lalu duduk bersila di sana.
            Malam yang gelap dan dingin, batinku. Hanya ada cahaya bintang-bintang menerangi tanpa ditemani cahaya rembulan. Aku baru menyadari bahwa rumahku terletak sangat jauh dari keramaian dan terangnya kota. Papaku membangun rumah ini sangat di pelosok desa karena menginginkan ketenangan. Hanya suara jangkrik yang dapat kudengar dan sayup-sayup suara nyanyian adik perempuanku yang sekarang duduk di kelas 8 di SMP N 4 Pakem, Shana dikamarnya yang terdengar seperti sedang menyanyikan salah satu lagu kesayangannya, Wake Me Up When the September Ends, Green Day.
            Aku sengaja tidak menyalakan lampu kamarku. Membiarkan diriku menikmati kegelapan fisik dan batin. Memikirkan surat yang kuterima pagi ini. Ditulis dengan tinta ungu dan tulisan yang indah. Tanpa nama pengirim atau pun tanda tangan. Aku menemukannya terselip di buku catatan kord gitarku. Aku tidak tahu kapan pengirimnya memasukkannya ke dalam bukuku itu. Aku hanya menemukannya pagi ini. Di surat tersebut hanya tertulis:

            Dear Damar,
     Aku minta maaf karena udah lancang nulis surat ini. Aku ga tau apa yang menghantui perasaanku. Aku ga tau harus gimana lagi. Aku ga mau nyakitin diriku sendiri. Tapi aku cuma pengen kamu tau. Aku ga berharap kamu menanggapinya dengan serius.
     Kamu tau? Bagiku kamu itu special. Kamu unik. Aku suka caramu berjalan, berbicara, tertawa, tersenyum, ekpresi matamu, caramu bercanda. Mungkin kamu udah tau maksudku.
     Aku cuma pengen kamu tau itu. Aku ga berharap apa-apa darimu. Karena aku sadar, aku terlalu ga sempurna, terlalu bodoh, terlalu lemah, terlalu cacat, terlalu jelek buat kamu. Aku tau banyak yang lebih baik untukmu daripada aku. Aku Cuma pengen kamu tau itu.
     Makasih udah mau baca suratku.
    
     Your Guardian Angel 

            Aku tahu maksud surat itu. Aku bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tersentuh oleh surat itu dan siapapun yang telah menulisnya. Namun, aku sudah terlanjur menyayangi gadis lain.
            Namanya Nina Noelani Sheena, Nina berarti perempuan atau mata yang indah, Neolani yang berarti gadis cantik dari surga dan Sheena yang berarti berkah Tuhan yang anggun. Sungguh sebuah nama yang cantik untuk seorang gadis cantik yang mempunyai mata indah dan baik hati. Dia biasa dipanggil dengan nama Noe atau Sheena. Tetapi, aku lebih suka memanggilnya dengan nama Sheena. Aku sudah mengenalnya sejak kelas 10 tahun lalu. Ia menabrakku tanpa sengaja di lapangan basket saat MOS berlangsung. Aku membantunya untuk berdiri sambil menatap kedua matanya yang indah yang tersembunyi di balik kacamata perak – metalik – hitamnya. Dari situlah aku merasakan rasa sayangku kepadanya.
            Ia sangat baik hati dan ramah. Aku berteman dengannya karena ia sering menunggu kakak laki-lakinya, Civan berlatih basket, kegiatan ekstrakurikuler yang juga kuikuti di sekolah. Ia selalu menarik perhatianku. Ia sangat supel dan dekat dengan siapa pun. Ia mempunyai banyak teman. Ia juga cukup dekat denganku dua tahun ini. Namun aku terlalu malu dan takut untuk menyatakan perasaanku padanya.
Bulan lalu, saat hari ulang tahunku, teman-temanku membuat kejutan sebuah pesta kecil. Ia juga hadir dalam pesta itu. Ia juga memberikanku sebuah hadiah. Jaket hitam bertuliskan “be yourself, you are the star” warna putih di bagian punggungnya, dan bergambar tiga bintang biru muda di dada kirinya. Ia memiliki selera yang bagus menurutku. Aku sangat menyukai jaket tersebut.
            “Mas Damar, mau bantu aku nggak?”, terdengar suara Shana beserta ketukan pintu pelannya membuyarkan lamunanku.
            “Masuk aja, Dik. Nggak mas kunci kok, pintunya.”, jawabku sambil bangkit dari dudukku. “Mau minta dibantuin apa?”, tanyaku setelah melihat wajah adikku yang samar oleh gelapnya kamarku.
            “Bantuin buat tugas Bahasa Indonesia, dong...”, katanya sambil menyalakan lampu kamarku. Lalu ia duduk di atas tempat tidurku seraya meletakkan pensil dan bukunya, ”aku disuruh buat analisis arti namaku sama keluarga,” jelasnya sebelum aku sempat bertanya.
            “Tugasnya Bu Tri, ya?”, tanyaku yang kebetulan pernah mendapatkan tugas yang sama 3 tahun lalu saat masih bersekolah di sekolah yang sama dengan adikku.
            “Iya, mas. Aku pengen tanya arti namanya mas.”, katanya sambil menyerahkan buku yang tadi dibawanya.
            “Ehm… Calista Septi Shana Venus Andromeda, Calista berasal dari Yunani yang berarti yang tercantik dan adil, masa’ sih? Septi, singkatan dari September Tiga, tanggal lahir, kamu lahir tanggal tiga, toh, Dik? Shana, berarti cantik, Venus berarti dewi cinta, dan Andromeda wanita cantik yang diselamatkan oleh dewa Perseus. Arti namamu bagus juga, Dik,” komentarku sembari membaca catatan di buku tulisnya.
            “Ih, nakal…! Sama tanggal lahir adik sendiri lupa. Artinya emang kayak gitu kok,” jawabnya sambil sedikit tersipu. “Trus, arti nama mas apa dong?”, lanjutnya.
            “Shrikanta Anteros Damar Derry. Shrikanta itu dari suku Indian yang artinya cakep atau tampan, Anteros dari dewa kemauan dan cinta dari Yunani, Damar itu singkatan dari Dua Maret, ulang tahun Mas, Derry itu penyayang atau bisa kesatria kuno dari legenda Celtic. Kesimpulannya, simpulin sendiri,” kataku pelan-pelan selagi adikku satu-satunya ini sibuk mencatat.
            “Ok, mas. Makasih ya… sekarang tinggal diketik,” katanya sambil tersenyum manis. Aku suka senyum adikku ini. Aku sangat menyayanginya dan sebaliknya dengan adikku.
            “Ok, Dik…! Good luck, ya…!”, kataku sambil mengacak-acak rambut tebal sebahunya. “Kalo mau keluar, matiin lampunya sama tutup pintu,” pesanku sebelum dia keluar. Dan aku lihat dia mengangguk sembari merengut dan merapikan rambutnya.
            Setelah adikku mematikan lampu dan menutup pintu kembali, aku mengambil gitarku dari pojok kamarku.
            “Ouch!! Argh!!”, teriakku sembari berloncatan mengelilingi kamarku. Aku menabrak kotak di sebelah gitarku yang tak tampak karena gelapnya kamarku.
            Aku membawa gitarku ke balkon sambil masih memegangi betisku yang sakit. Aku kembali duduk bersila di situ. Aku mulai memikirkan antara Sheena dan “The Guardian Angel”. Lalu aku mulai memainkan lagu Stairway to Heaven milik Led Zeppelin dengan gitarku. Namun, aku tidak bisa berkonsentrasi. Pikiranku melayang pada surat itu.
            Aku bangkit dan meraih ponsel yang kuletakkan di meja belajarku. Aku membuka Opera Mini dan login di Facebook. Aku mengabaikan 25 notifications dan 5 friend requests serta 6 messages yang tertera. Aku langsung mencari nama Nina Noelani Sheena pada search. Tak lama kemudian, profilenya sudah terpampang di layar ponselku. Aku membaca infonya.
                        Dari situ aku baru ingat bahwa dia suka buku-buku tebal dan film-film kualitas tinggi. Untuk musik sendiri, ia menyukai lagu-lagu yang memiliki arti yang bagus dan mendengarkan jenis musik tergantung mood dia saja. Dia cukup menyukai lagu-lagu dari Avenged Sevenfold, Linkin Park, Green Day, Good Charlotte, Maroon 5, Nidji, Kerispatih, lagu-lagu lama So7, Celine Dion, Evanescene, dan lagu-lagu lain yang tak kalah bagusnya. Beberapa lagu yang ia sukai antara lain, Seize the Day, Gunslinger, The Prayer, Stairway to Heaven, American Idiot, When You Believe, Hurt, One Last Cry, Tak Lekang Oleh Waktu, Demi Cinta, Warmness on the Soul, November Rain, dan A Beautiful Lie merupakan lagu wajib dalam playlist ipodnya.
            Aku tersenyum saat mengingatnya. Sungguh gadis yang unik. Sejenak aku memandang profile picture yang ia pakai. Terlihat dirinya dalam balutan gaun berwarna ungu muda-hitam selutut berbahan ringan, mengenakan high-heels berwarna hitam-ungu, membawa sebuah tas pesta kecil berwarna magenta, rambut panjangnya diikat model acak-acakan keatas, ia memakai lipgloss yang menurutku berwarna merah muda. Ia tersenyum manis ke arah kamera. Ia terlihat seperti dalam sebuah acara resepsi pernikahan outdoor yang elegan. Ia terlihat sangat anggun.
            Mataku bergerak kearah statusnya. Di situ tertulis: “Aku tidak sempurna, aku hanya ingin kalian mengerti, aku minta maaf atas kekuranganku.”. Aku tertegun sesaat. Aku tak tahu mengapa ia menulis seperti itu. Tetapi aku tidak terlalu memikirkannya.
            Aku menyudahi Facebook-ku beberapa saat kemudian. Lalu aku berpikir sejenak tentangnya. Aku sadar aku tidak ingin kehilangan dirinya. Aku memainkan sepenggal lirik dari lagu Gunslinger milik Avenged Sevenfold.
            “I always been true, I’ve waited so long just to come hold you, I’m making it through, it’s been far too long, we’ve proven our love over time so strong, in all that we do…”, aku terdiam sejenak, tidak melanjutkan liriknya. Aku tahu bahwa lirik selanjutnya adalah bagian yang paling disukai Sheena.
 Aku berpikiran untuk menyatakan perasaanku padanya besok. Aku tidak mau menyakiti perasaanku sendiri terlalu lama lagi. Aku terlalu menyayanginya. Aku bertekad untuk menyatakan perasaanku besok siang. Aku sudah memikirkan rencana itu secara matang. Aku akan melupakan sang “guardian angel” dalam surat itu.
Lamunanku buyar saat ponselku berbunyi dalam genggamanku. Sebuah SMS masuk. Jantungku berdegup kencang saat nama Sheena tertera disana. Aku langsung membukanya dan membaca.

I wanna b ur guardian angel.
Thx 4 reading my letter n my mind.
Thx 4 be my friend n fill my days with colors.
I just want you to forget my letter.
Don’t change n keep smilin 4 me.

Ur guardian angel, Sheena

Sender:
Sheena
+6285729393929

Aku merasakan pikiranku meninggalkan otakku sejenak. Aku tidak bisa berkata-kata. Aku sangat senang sekaligus bingung. Aku tidak menyangka bahwa selama ini Sheena lah guardian angel  itu. Aku tersenyum sendiri menyadari itu. Aku secara tidak sadar menyubit diriku sendiri, dan aku merasakan sakitnya. Aku yakin aku tidak bermimpi lagi. Aku membaca ulang SMS indah itu.
Aku sangat ingin membalas SMS itu atau langsung meneleponnya. Namun jariku tak mampu kugerakkan. Aku tak kuasa untuk mencari namanya di kontak ponselku. Aku punya rencana yang lebih indah untuknya besok.
Aku terus saja tersenyum. Tanpa sengaja mataku memandang jam meja yang berpendar dalam gelap milikku yang ada di atas meja belajarku. Pukul 7 lewat 20 menit, dan aku masih belum menyalakan lampu kamarku. Aku bangkit dan menjatuhkan diriku di atas tempat tidur dan menutup wajahku dengan kedua tanganku.
Jantung ini masih saja berdegup kencang. Aku melamunkan saat indah antara aku dan dia. Aku terus saja mengulang membaca SMS darinya itu dalam gelapnya kamarku dan dinginnya angin malam yang masuk. Aku siap untuk membalas sayangnya padaku.
Dering nyaring ponselku membuyarkan lamunanku. Sejenak aku kembali memandang jam di atas meja belajarku itu. Jam itu menunjukkan pukul 8 lewat 5 menit. Ternyata lama juga aku memikirkannya, batinku. Lalu meraih ponselku. Telepon dari Rere, salah satu teman baik Sheena yang juga cukup dekat denganku.
“Halo, kenapa, Re?”, kataku. Aku heran mendengarnya sedikit terisak.
“Sheena, Mar, Sheena.”, isaknya semakin keras dalam kebingunganku.
“Sheena kenapa, Re?”, sambarku panik. Aku tidak ingin sesuatu buruk terjadi padanya.
“Sheena kecelakaan, Mar.”, tangis Rere pun pecah
“Apa?? Terus sekarang dia di mana? Dia nggak apa-apa kan? Jangan nangis dong, Re… kasih tau gimana Sheena sekarang!!”, sambarku lagi dengan suara parau. Aku bertambah panik dan langsung meloncat bangun dari tempat tidurku. Aku tambah panik mendengar isak tangis Rere yang kian menjadi.
“Dia udah meninggal, Mar… sekarang di rumah sakit Sarjidto. Mas Civan sekarang koma..”, ujarnya ditengah isak tangis yang menjadi-jadi.
“Apa, Re? Kamu pasti bercanda kan? BILANG KAMU BERCANDA, RE!!”, teriakku putus asa. Aku merasa sudah tidak menginjak kamarku lagi. Aku tidak bisa merasakan tubuhku lagi.
“AKU NGGAK BOHONG, DAMAR!! AKU NGGAK MUNGKIN BOHONG!! AKU NGGAK MAIN-MAIN!! SHEENA UDAH MENINGGAL!!”, teriak Rere tak kalah putus asa sambil terus menangis.
Tiba-tiba telepon itu terputus dan aku bisa merasakan ponselku meluncur turun dari tanganku. Aku bisa mendengar suara saat ponselku menghantam lantai kamarku.
Aku merasakan bulir air mata membasahi pipiku. Aku tak dapat berkata-kata lagi. Aku merasa seperti habis ditampar puluhan kali. Aku hanya menunduk memandang lantai kamarku.
Aku merasakan tanganku menggapai sebuah benda berwarna hitam dari gantungan baju. Aku mengenakan benda tersebut diatas kaosku. Aku merasakan kehangatan mengalir di dalamnya. Ya, aku mengenakan jaket pemberian Sheena sebulan lalu.
Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku merasa begitu tersesat dalam kamarku sendiri. Aku meraih gitarku dan memainkan sebuah lagu kesayangannya. Sebelum bernyanyi, aku berkata, “untukmu kasih, aku juga mencintaimu dan kamu akan selalu berada di hatiku tak perduli seberapa jauhnya kamu dariku.”
Sejenak aku memandang langit cerah bertabur bintang malam ini dan berkata sambil tersenyum, “Kamu nggak sendirian di sana, Sheena. Aku tau Tuhan bakal ngejagain kamu selamanya dan aku harap kamu dengar lagu ini”.

Gunslinger
Yeah, you've been alone I've been gone for far too long But with all that we've been through After all this time I'm coming home to you

Never let it show The pain I've grown to know 'Cause with all these things we do It don't matter when I'm coming home to you

(Chorus): I reach towards the sky I've said my goodbyes My heart's always with you now I won't question why so many have died My prayers have made it through yeah 'Cause with all these things we do It don't matter when I'm coming home to you

Letters keep me warm Helped me through the storm But with all that we've been through After all this time I'm coming home to you

(Chorus)
I've always been true I've waited so long just to come hold you I'm making it through It's been far too long, we've proven our love over time's so strong, in all that we do The stars in the night, they lend me their light to bring me closer to heaven with you

But with all that we've been through After all this time I'm coming home to you

(Chorus)
And with all that we've been through After all this time I'm coming home to you

Aku tersenyum memandang bintang-bintang di langit dan mengulang bait favorit Sheena dalam kesungguhan, “The stars in the night, they lend me their light to bring me closer to heaven with you.”

Aku bangkit meraih jaket pemberian Sheena, meraih kunci motor di atas meja belajar dan membuka pintu.

Senin, 16 Mei 2011

Murasaki no tsuki (紫の月)

Terpaku aku jatuh terduduk di atas rerumputan yang basah karena embun musim dingin tak bersalju. Seribu pesona gugusan bintang di langit menjadi saksi kelunya lidahku. Udara dingin yang menusuk tulang rusuk membuat kedua tanganku yang berlapis sarung tangan wol pemberiannya mati rasa, beku. Mataku tak berkedip ketika memandang pantulan cahaya sang rembulan di atas danau yang mulai membeku dengan cepat itu. Ah, sungguh indah kekuasaan sang Pencipta. Hatiku bergetar memandang betapa sempurnanya pantulan cahaya rembulan itu. Memanggil semua memori pahit dan manis yang pernah aku dan dia pernah lewati. Khayalanku melayang cepat ke masa-masa di mana dia membawaku berlari menyusuri bukit berumput dan berbunga ini. Mataku kembali dengan cepat menjelajahi wilayah sunyi di sekelilingku. Ah, tidak banyak perubahan yang terjadi. Kuputuskan untuk memlepaskan sarung tangan ungu bertuliskan "Murasaki no tsuki" dari telapak tangan kananku. Seketika udara dingin menusuk mematikan syaraf di ujung setiap jariku yang kian memucat. Kuambil amplop surat darinya yang kutemukan di meja kamarnya di villa pagi ini. Pagi di mana aku baru saja tiba kembali ke villa kenangan kami setelah dua tahun kami tidak kembali.
"Luna Nila, aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Tapi, maafkan aku. Maafkan aku yang selama ini telah berbohong di hadapanmu. Kesalahanku mungkin terlalu besar untuk dimaafkan. Aku tahu, selama ini aku salah. Namun, sadarkah kamu bagaimana aku menyayangimu? Aku tak ingin menyakitimu lebih dalam. Maka, izinkanlah aku pergi. Izinkanlah aku merelakanmu untuk menemukan seseorang yang jauh lebih pantas bersamamu. Maafkan aku."
Bersama surat perpisahan itu aku menemukan sarung tangan wol "Murasaki no tsuki" ini. Aku masih bisa merasakan bagaimana dia meletakkannya di meja itu setahun yang lalu. Setahun setelah pantulan sinar rembulan memukau mata kami di danau yang sama.
Baru kemarin. Baru kemarin aku mengetahuinya. Baru kemarin aku menyadarinya. Betapa bodohnya aku. Penantian selama dua tahun yang sia-sia. Penantian berurai air mata yang tidak ada artinya. Ingin rasanya aku menggapai rembulan malam ini. Membawanya masuk ke dalam relung hatiku yang hampa dan mati rasa. Air mata sudah tidak ada gunanya untuk mengusir gundah ini.
Perlahan jari tangan kananku menyusuri rerumputan beku di sampingku. Membiarkan sensasi syaraf yang berteriak mulai mati. Dapat kulihat dengan jelas betapa kukuku mulai memucat seiring berjalannya waktu. Dengan susah payah aku menyuruh jari-jari beku tangan kananku melepaskan sarung tangan "Murasaki no tsuki" dari jari-jari tangan kiriku yang mulai berteriak kedinginan. Aku pun hanya tersenyum pahit memandang sepasang sarung tangan di atas pangkuanku. Andaikan aku menyadarinya terlebih dahulu. Bodoh, betapa bodohnya aku.
Kembali aku memandang pantulan cahaya rembulan di danau yang sudah setengah membeku itu. Sembari melipat kembali surat darinya, aku tersenyum memandang ke arah gugusan-gugusan bintang malam ini. Terima kasih kalian telah setia menemani dan mengalah kepada sang rembulan malam ini untuk bersinar. Aku bersimpuh kembali menatap pantulan rembulan malam itu. Pantulannya perlahan berubah menjadi keunguan di atas lapisan tipis es yang rapuh. Sama seperti dua tahun lalu. Kini, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa memandang indahnya kuasa sang Pencipta malam ini. Mungkin besok, atau mungkin sampai danau ini selesai membeku.

Kamis, 02 Desember 2010

Introduction

well, before I start to pour my ideas in this blog, I'd like to introduce myself to all of you.
My name is Aya Pamungkas or simply as Ai.
You know, Aya means "color" in Japanese and Pamungkas means "the last" in Indonesia. I use this name cause I'm the last color of rainbow. The eighth color of rainbow spectrum. Mysterious but adorable.
And then "Ai" it has 2 meanings the first is love 愛 and the second one is sorrow 哀.

Alright, I live in a small wonderful world of my own. I live with my imagination that flows like an ever-lasted river in my head. I always have a eight-colored rainbow inside my head, but it usually covered by the dark clouds of problems that seemed never leave. It sometimes left me for a while than come back again.