Aku membanting pintu kamarku yang gelap. Aku urung menyalakan lampu kamarku. Samar aku bisa melihat gantungan dinding bertuliskan, Shrikanta Anteros Damar Derry’s room yang terbuat dari fosfor berpendar dalam gelap. Kemudian membanting kunci motor ke meja belajarku dan tas ke rak di samping lemari pakaian. Pikiranku seakan meninggalkanku untuk sementara waktu. Lantas aku membanting diriku di atas kasur kamarku. Aku memandang ke bintang-bintang di langit malam ini dibalik kaca pintu balkon kamarku. Sejenak aku merasakan cahayanya menarikku.
“Argh!!”, teriakku frustasi. Aku merasa sangat kacau. Fisikku lelah, begitu pula pikiranku. Aku sangat ingin memejamkan mataku sebentar. Namun, usahaku percuma saja, karena aku tidak bisa. Lalu aku bangkit dan membuka pintu kaca balkon kamarku. Lalu duduk bersila di sana.
Malam yang gelap dan dingin, batinku. Hanya ada cahaya bintang-bintang menerangi tanpa ditemani cahaya rembulan. Aku baru menyadari bahwa rumahku terletak sangat jauh dari keramaian dan terangnya kota. Papaku membangun rumah ini sangat di pelosok desa karena menginginkan ketenangan. Hanya suara jangkrik yang dapat kudengar dan sayup-sayup suara nyanyian adik perempuanku yang sekarang duduk di kelas 8 di SMP N 4 Pakem, Shana dikamarnya yang terdengar seperti sedang menyanyikan salah satu lagu kesayangannya, Wake Me Up When the September Ends, Green Day.
Aku sengaja tidak menyalakan lampu kamarku. Membiarkan diriku menikmati kegelapan fisik dan batin. Memikirkan surat yang kuterima pagi ini. Ditulis dengan tinta ungu dan tulisan yang indah. Tanpa nama pengirim atau pun tanda tangan. Aku menemukannya terselip di buku catatan kord gitarku. Aku tidak tahu kapan pengirimnya memasukkannya ke dalam bukuku itu. Aku hanya menemukannya pagi ini. Di surat tersebut hanya tertulis:
Dear Damar,
Aku minta maaf karena udah lancang nulis surat ini. Aku ga tau apa yang menghantui perasaanku. Aku ga tau harus gimana lagi. Aku ga mau nyakitin diriku sendiri. Tapi aku cuma pengen kamu tau. Aku ga berharap kamu menanggapinya dengan serius.
Kamu tau? Bagiku kamu itu special. Kamu unik. Aku suka caramu berjalan, berbicara, tertawa, tersenyum, ekpresi matamu, caramu bercanda. Mungkin kamu udah tau maksudku.
Aku cuma pengen kamu tau itu. Aku ga berharap apa-apa darimu. Karena aku sadar, aku terlalu ga sempurna, terlalu bodoh, terlalu lemah, terlalu cacat, terlalu jelek buat kamu. Aku tau banyak yang lebih baik untukmu daripada aku. Aku Cuma pengen kamu tau itu.
Makasih udah mau baca suratku.
Your Guardian Angel
Aku tahu maksud surat itu. Aku bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tersentuh oleh surat itu dan siapapun yang telah menulisnya. Namun, aku sudah terlanjur menyayangi gadis lain.
Namanya Nina Noelani Sheena, Nina berarti perempuan atau mata yang indah, Neolani yang berarti gadis cantik dari surga dan Sheena yang berarti berkah Tuhan yang anggun. Sungguh sebuah nama yang cantik untuk seorang gadis cantik yang mempunyai mata indah dan baik hati. Dia biasa dipanggil dengan nama Noe atau Sheena. Tetapi, aku lebih suka memanggilnya dengan nama Sheena. Aku sudah mengenalnya sejak kelas 10 tahun lalu. Ia menabrakku tanpa sengaja di lapangan basket saat MOS berlangsung. Aku membantunya untuk berdiri sambil menatap kedua matanya yang indah yang tersembunyi di balik kacamata perak – metalik – hitamnya. Dari situlah aku merasakan rasa sayangku kepadanya.
Ia sangat baik hati dan ramah. Aku berteman dengannya karena ia sering menunggu kakak laki-lakinya, Civan berlatih basket, kegiatan ekstrakurikuler yang juga kuikuti di sekolah. Ia selalu menarik perhatianku. Ia sangat supel dan dekat dengan siapa pun. Ia mempunyai banyak teman. Ia juga cukup dekat denganku dua tahun ini. Namun aku terlalu malu dan takut untuk menyatakan perasaanku padanya.
Bulan lalu, saat hari ulang tahunku, teman-temanku membuat kejutan sebuah pesta kecil. Ia juga hadir dalam pesta itu. Ia juga memberikanku sebuah hadiah. Jaket hitam bertuliskan “be yourself, you are the star” warna putih di bagian punggungnya, dan bergambar tiga bintang biru muda di dada kirinya. Ia memiliki selera yang bagus menurutku. Aku sangat menyukai jaket tersebut.
“Mas Damar, mau bantu aku nggak?”, terdengar suara Shana beserta ketukan pintu pelannya membuyarkan lamunanku.
“Masuk aja, Dik. Nggak mas kunci kok, pintunya.”, jawabku sambil bangkit dari dudukku. “Mau minta dibantuin apa?”, tanyaku setelah melihat wajah adikku yang samar oleh gelapnya kamarku.
“Bantuin buat tugas Bahasa Indonesia, dong...”, katanya sambil menyalakan lampu kamarku. Lalu ia duduk di atas tempat tidurku seraya meletakkan pensil dan bukunya, ”aku disuruh buat analisis arti namaku sama keluarga,” jelasnya sebelum aku sempat bertanya.
“Tugasnya Bu Tri, ya?”, tanyaku yang kebetulan pernah mendapatkan tugas yang sama 3 tahun lalu saat masih bersekolah di sekolah yang sama dengan adikku.
“Iya, mas. Aku pengen tanya arti namanya mas.”, katanya sambil menyerahkan buku yang tadi dibawanya.
“Ehm… Calista Septi Shana Venus Andromeda, Calista berasal dari Yunani yang berarti yang tercantik dan adil, masa’ sih? Septi, singkatan dari September Tiga, tanggal lahir, kamu lahir tanggal tiga, toh, Dik? Shana, berarti cantik, Venus berarti dewi cinta, dan Andromeda wanita cantik yang diselamatkan oleh dewa Perseus. Arti namamu bagus juga, Dik,” komentarku sembari membaca catatan di buku tulisnya.
“Ih, nakal…! Sama tanggal lahir adik sendiri lupa. Artinya emang kayak gitu kok,” jawabnya sambil sedikit tersipu. “Trus, arti nama mas apa dong?”, lanjutnya.
“Shrikanta Anteros Damar Derry. Shrikanta itu dari suku Indian yang artinya cakep atau tampan, Anteros dari dewa kemauan dan cinta dari Yunani, Damar itu singkatan dari Dua Maret, ulang tahun Mas, Derry itu penyayang atau bisa kesatria kuno dari legenda Celtic. Kesimpulannya, simpulin sendiri,” kataku pelan-pelan selagi adikku satu-satunya ini sibuk mencatat.
“Ok, mas. Makasih ya… sekarang tinggal diketik,” katanya sambil tersenyum manis. Aku suka senyum adikku ini. Aku sangat menyayanginya dan sebaliknya dengan adikku.
“Ok, Dik…! Good luck, ya…!”, kataku sambil mengacak-acak rambut tebal sebahunya. “Kalo mau keluar, matiin lampunya sama tutup pintu,” pesanku sebelum dia keluar. Dan aku lihat dia mengangguk sembari merengut dan merapikan rambutnya.
Setelah adikku mematikan lampu dan menutup pintu kembali, aku mengambil gitarku dari pojok kamarku.
“Ouch!! Argh!!”, teriakku sembari berloncatan mengelilingi kamarku. Aku menabrak kotak di sebelah gitarku yang tak tampak karena gelapnya kamarku.
Aku membawa gitarku ke balkon sambil masih memegangi betisku yang sakit. Aku kembali duduk bersila di situ. Aku mulai memikirkan antara Sheena dan “The Guardian Angel”. Lalu aku mulai memainkan lagu Stairway to Heaven milik Led Zeppelin dengan gitarku. Namun, aku tidak bisa berkonsentrasi. Pikiranku melayang pada surat itu.
Aku bangkit dan meraih ponsel yang kuletakkan di meja belajarku. Aku membuka Opera Mini dan login di Facebook. Aku mengabaikan 25 notifications dan 5 friend requests serta 6 messages yang tertera. Aku langsung mencari nama Nina Noelani Sheena pada search. Tak lama kemudian, profilenya sudah terpampang di layar ponselku. Aku membaca infonya.
Dari situ aku baru ingat bahwa dia suka buku-buku tebal dan film-film kualitas tinggi. Untuk musik sendiri, ia menyukai lagu-lagu yang memiliki arti yang bagus dan mendengarkan jenis musik tergantung mood dia saja. Dia cukup menyukai lagu-lagu dari Avenged Sevenfold, Linkin Park, Green Day, Good Charlotte, Maroon 5, Nidji, Kerispatih, lagu-lagu lama So7, Celine Dion, Evanescene, dan lagu-lagu lain yang tak kalah bagusnya. Beberapa lagu yang ia sukai antara lain, Seize the Day, Gunslinger, The Prayer, Stairway to Heaven, American Idiot, When You Believe, Hurt, One Last Cry, Tak Lekang Oleh Waktu, Demi Cinta, Warmness on the Soul, November Rain, dan A Beautiful Lie merupakan lagu wajib dalam playlist ipodnya.
Aku tersenyum saat mengingatnya. Sungguh gadis yang unik. Sejenak aku memandang profile picture yang ia pakai. Terlihat dirinya dalam balutan gaun berwarna ungu muda-hitam selutut berbahan ringan, mengenakan high-heels berwarna hitam-ungu, membawa sebuah tas pesta kecil berwarna magenta, rambut panjangnya diikat model acak-acakan keatas, ia memakai lipgloss yang menurutku berwarna merah muda. Ia tersenyum manis ke arah kamera. Ia terlihat seperti dalam sebuah acara resepsi pernikahan outdoor yang elegan. Ia terlihat sangat anggun.
Mataku bergerak kearah statusnya. Di situ tertulis: “Aku tidak sempurna, aku hanya ingin kalian mengerti, aku minta maaf atas kekuranganku.”. Aku tertegun sesaat. Aku tak tahu mengapa ia menulis seperti itu. Tetapi aku tidak terlalu memikirkannya.
Aku menyudahi Facebook-ku beberapa saat kemudian. Lalu aku berpikir sejenak tentangnya. Aku sadar aku tidak ingin kehilangan dirinya. Aku memainkan sepenggal lirik dari lagu Gunslinger milik Avenged Sevenfold.
“I always been true, I’ve waited so long just to come hold you, I’m making it through, it’s been far too long, we’ve proven our love over time so strong, in all that we do…”, aku terdiam sejenak, tidak melanjutkan liriknya. Aku tahu bahwa lirik selanjutnya adalah bagian yang paling disukai Sheena.
Aku berpikiran untuk menyatakan perasaanku padanya besok. Aku tidak mau menyakiti perasaanku sendiri terlalu lama lagi. Aku terlalu menyayanginya. Aku bertekad untuk menyatakan perasaanku besok siang. Aku sudah memikirkan rencana itu secara matang. Aku akan melupakan sang “guardian angel” dalam surat itu.
Lamunanku buyar saat ponselku berbunyi dalam genggamanku. Sebuah SMS masuk. Jantungku berdegup kencang saat nama Sheena tertera disana. Aku langsung membukanya dan membaca.
I wanna b ur guardian angel.
Thx 4 reading my letter n my mind.
Thx 4 be my friend n fill my days with colors.
I just want you to forget my letter.
Don’t change n keep smilin 4 me.
Ur guardian angel, Sheena
Sender:
Sheena
+6285729393929
Aku merasakan pikiranku meninggalkan otakku sejenak. Aku tidak bisa berkata-kata. Aku sangat senang sekaligus bingung. Aku tidak menyangka bahwa selama ini Sheena lah guardian angel itu. Aku tersenyum sendiri menyadari itu. Aku secara tidak sadar menyubit diriku sendiri, dan aku merasakan sakitnya. Aku yakin aku tidak bermimpi lagi. Aku membaca ulang SMS indah itu.
Aku sangat ingin membalas SMS itu atau langsung meneleponnya. Namun jariku tak mampu kugerakkan. Aku tak kuasa untuk mencari namanya di kontak ponselku. Aku punya rencana yang lebih indah untuknya besok.
Aku terus saja tersenyum. Tanpa sengaja mataku memandang jam meja yang berpendar dalam gelap milikku yang ada di atas meja belajarku. Pukul 7 lewat 20 menit, dan aku masih belum menyalakan lampu kamarku. Aku bangkit dan menjatuhkan diriku di atas tempat tidur dan menutup wajahku dengan kedua tanganku.
Jantung ini masih saja berdegup kencang. Aku melamunkan saat indah antara aku dan dia. Aku terus saja mengulang membaca SMS darinya itu dalam gelapnya kamarku dan dinginnya angin malam yang masuk. Aku siap untuk membalas sayangnya padaku.
Dering nyaring ponselku membuyarkan lamunanku. Sejenak aku kembali memandang jam di atas meja belajarku itu. Jam itu menunjukkan pukul 8 lewat 5 menit. Ternyata lama juga aku memikirkannya, batinku. Lalu meraih ponselku. Telepon dari Rere, salah satu teman baik Sheena yang juga cukup dekat denganku.
“Halo, kenapa, Re?”, kataku. Aku heran mendengarnya sedikit terisak.
“Sheena, Mar, Sheena.”, isaknya semakin keras dalam kebingunganku.
“Sheena kenapa, Re?”, sambarku panik. Aku tidak ingin sesuatu buruk terjadi padanya.
“Sheena kecelakaan, Mar.”, tangis Rere pun pecah
“Apa?? Terus sekarang dia di mana? Dia nggak apa-apa kan? Jangan nangis dong, Re… kasih tau gimana Sheena sekarang!!”, sambarku lagi dengan suara parau. Aku bertambah panik dan langsung meloncat bangun dari tempat tidurku. Aku tambah panik mendengar isak tangis Rere yang kian menjadi.
“Dia udah meninggal, Mar… sekarang di rumah sakit Sarjidto. Mas Civan sekarang koma..”, ujarnya ditengah isak tangis yang menjadi-jadi.
“Apa, Re? Kamu pasti bercanda kan? BILANG KAMU BERCANDA, RE!!”, teriakku putus asa. Aku merasa sudah tidak menginjak kamarku lagi. Aku tidak bisa merasakan tubuhku lagi.
“AKU NGGAK BOHONG, DAMAR!! AKU NGGAK MUNGKIN BOHONG!! AKU NGGAK MAIN-MAIN!! SHEENA UDAH MENINGGAL!!”, teriak Rere tak kalah putus asa sambil terus menangis.
Tiba-tiba telepon itu terputus dan aku bisa merasakan ponselku meluncur turun dari tanganku. Aku bisa mendengar suara saat ponselku menghantam lantai kamarku.
Aku merasakan bulir air mata membasahi pipiku. Aku tak dapat berkata-kata lagi. Aku merasa seperti habis ditampar puluhan kali. Aku hanya menunduk memandang lantai kamarku.
Aku merasakan tanganku menggapai sebuah benda berwarna hitam dari gantungan baju. Aku mengenakan benda tersebut diatas kaosku. Aku merasakan kehangatan mengalir di dalamnya. Ya, aku mengenakan jaket pemberian Sheena sebulan lalu.
Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku merasa begitu tersesat dalam kamarku sendiri. Aku meraih gitarku dan memainkan sebuah lagu kesayangannya. Sebelum bernyanyi, aku berkata, “untukmu kasih, aku juga mencintaimu dan kamu akan selalu berada di hatiku tak perduli seberapa jauhnya kamu dariku.”
Sejenak aku memandang langit cerah bertabur bintang malam ini dan berkata sambil tersenyum, “Kamu nggak sendirian di sana, Sheena. Aku tau Tuhan bakal ngejagain kamu selamanya dan aku harap kamu dengar lagu ini”.
Gunslinger
Yeah, you've been alone I've been gone for far too long But with all that we've been through After all this time I'm coming home to you
Never let it show The pain I've grown to know 'Cause with all these things we do It don't matter when I'm coming home to you
(Chorus): I reach towards the sky I've said my goodbyes My heart's always with you now I won't question why so many have died My prayers have made it through yeah 'Cause with all these things we do It don't matter when I'm coming home to you
Letters keep me warm Helped me through the storm But with all that we've been through After all this time I'm coming home to you
(Chorus)
I've always been true I've waited so long just to come hold you I'm making it through It's been far too long, we've proven our love over time's so strong, in all that we do The stars in the night, they lend me their light to bring me closer to heaven with you
But with all that we've been through After all this time I'm coming home to you
(Chorus)
And with all that we've been through After all this time I'm coming home to you
Aku tersenyum memandang bintang-bintang di langit dan mengulang bait favorit Sheena dalam kesungguhan, “The stars in the night, they lend me their light to bring me closer to heaven with you.”
Aku bangkit meraih jaket pemberian Sheena, meraih kunci motor di atas meja belajar dan membuka pintu.