Minggu, 21 Agustus 2011

Murasaki no tsuki (紫の月) [extended version]

Terpaku aku jatuh terduduk di atas rerumputan yang basah karena embun musim dingin tak bersalju. Seribu pesona gugusan bintang di langit menjadi saksi kelunya lidahku. Udara dingin yang menusuk tulang rusuk membuat kedua tanganku yang berlapis sarung tangan wol pemberiannya mati rasa, beku. Mataku tak berkedip ketika memandang pantulan cahaya sang rembulan di atas danau yang mulai membeku dengan cepat itu. Ah, sungguh indah kekuasaan sang Pencipta. Hatiku bergetar memandang betapa sempurnanya pantulan cahaya rembulan itu. Memanggil semua memori pahit dan manis yang pernah aku dan dia lewati bersama. Khayalanku melayang cepat ke masa-masa di mana dia membawaku berlari menyusuri bukit berumput dan berbunga ini. Mataku kembali dengan cepat menjelajahi wilayah sunyi di sekelilingku. Ah, tidak banyak perubahan yang terjadi.
Sekelebat memori terbang berputar dalam anganku. Seperti bayang-bayang impian indah yang tak berujung. Warna-warna lembut mengindahkan dan menyilaukan padanganku. Tepat dua tahun yang lalu di tempat dan waktu yang sama dia menuntunku berjalan perlahan di antara dinginnya hembusan angin musim dingin menuju sebuah tempat di dekat sebuah pohon maple.
“Hey! Kita mau ke mana? Aku takut!” seruku kepadanya yang menggenggam erat tangan kananku seraya berjalan hati-hati di tengah gulita malam. “Ah, lihat saja nanti. Tidak akan seru jika aku beritahu.”, jawabnya sembari mempercepat langkahnya. “Kenapa harus terburu-buru? Dan kenapa harus selarut ini? Ini sudah nyaris tengah malam!”, rengekku lagi sembari terus mengawasi sekelilingku yang gelap. “Lihat! Di sana! Sebentar lagi kita sampai!”, serunya sembari menunjuk ke suatu tempat tak jauh dari tempat kita berjalan. Kupicingkan mataku untuk memperjelas pandanganku terhadap tempat yang dia tunjuk. Sebuah pohon maple yang berukuran sedang dengan latar belakang danau yang biasa terlihat dari beranda villa kami. Tak terasa kami telah sampai dibawah pohon maple yang sudah meranggas terkena dinginnya udara.
“Nah, ini dia tempatnya. Untung kita belum terlambat. Mungkin seperempat jam lagi.”, ujarnya sembari membimbingku untuk duduk di atas rerumput yang membeku. “Kita mau ngapain di sini?”, tanyaku sembari merapatkan syal ungu muda kesayanganku. “Tunggu saja nanti. Ini adalah malam terbaik untuk melihatnya di setiap tahun.”, jawabnya sambil tersenyum simpul. “Tapi di sini dingin sekali. Tsumetai desu ne. Sarung tanganku nampaknya kurang tebal untuk menghalau dingin malam ini.”, keluhku sembari menyusupkan kedua tanganku yang terasa membeku ke balik ke dua saku jaketku yang hangat. “Hmm... tunggu sebentar di sini ya. Aku akan kembali dalam lima menit.”, katanya sembari bangkit dan berlari ke arah hutan. “Hey! Chotto matte! Tunggu sebentar! Kamu mau ke mana?”, seruku sedikit panik. “Matte kudasai, Murasaki no Tsuki!”, jawabnya dari kejauhan. Huh, dia selalu menggodaku dengan nama itu. Dia tahu pasti bahwa ibuku adalah seorang Bali dan ayahku seorang Jepang tulen. Dan dia tahu pasti aku sudah belajar Bahasa Jepang setahun belakangan sebelum kami berangkat ke Eropa.
“Hey! Jangan melamun saja!”, serunya mengagetkanku yang sedang memikirkan kedongkolanku tadi. “Ah! Kamu ini mengagetkanku saja.”, kataku sembari menunjukkan wajah manyun. “Hahaha... Just kidding, Nila...” katanya sembari meletakkan setumpuk kayu kering yang dia dapatkan di hutan tadi. Aku memperhatikan gerak-geriknya yang mempersiapkan api unggun di atas rerumputan beku di depanku. Dia mengeluarkan sekotak korek api dari sakunya. Api pun perlahan menjalari tiap sudut dari kayu-kayu itu. Tanpa ragu aku mengeluarkan kedua tanganku dan meletakkannya di atas kedua lututku. “Atatakai desu ne. Hangat sekali.”, ujarku pelan sembari memandang liuk api yang perlahan menghabiskan kayu-kayu, merubahnya menjadi bara. “Hangatkanlah dirimu sebelum api ini aku padamkan.”, katanya perlahan sembari memandang langit yang perlahan mulai sedikit terang di balik pegunungan jauh di seberang danau. “Doushite? Kenapa? Kenapa harus dipadamkan? Ini kan sudah hangat.”, timpalku sedikit tidak setuju. “The fire will not let us to see the beauty of tonight’s sight. Akan terlalu terang dengan adanya api.”, ujarnya ringan sembari tersenyum kepadaku. Mata coklat mudanya yang tertimpa merahnya cahaya api terlihat sangat teduh dan hangat. Aku merasakan pipiku mulai menghangat. Aku sadar bahwa pipimu mulai bersemu merah. Dengan cepat aku memanglingkan wajahku dari wajahnya. “Ya, tak apa. Terserah kau sajalah.”, kataku kepadanya sedikit tertahan. “Baiklah kalau begitu. Rapatkan lagi jaketmu.”, katanya sambil mulai menginjak-injak bara api yang mulai meredup itu.
Gelap dan dingin menusuk kembali merayap di sekeliling kami. Aku kembali gelisah. “Jadi, apa yang kita nanti?”, tuntutku tak sabar. “Lima menit lagi.”, ujarnya ringan. Kemudian aku merasakan sebuah kain menutupi penglihatanku. Seketika aku terbutakan oleh kegelapan yang lebih pekat. “Hey! Apa ini?”, seruku terkejut. “Kejutan, tunggulah.”, bisiknya pelan di telingaku yang membuatku merasa kegelian. Aku hanya diam saja menanti. Satu menit, dua menit, empat menit, enam menit. “Katamu hanya lima menit!”, tuntutku lebih tidak sabar lagi. “Awan-awan mengganggu sedikit. Sabarlah. Beberapa menit lagi.”, sahutnya yang terdengar kira-kira beberapa langkah di samping kananku. Tiga menit kemudian, aku merasakan nafasnya yang panas di belakangku. Dia agaknya akan melepaskan kain yang menutupi mataku. Aku sudah tidak sabar sampai tak bisa bernafas. Kemudian aku sudah bisa merasakan kembali mataku.
Perlahan aku mulai membuka mataku. Butuh satu menit untuk menyesuaikan pandanganku dari buramnya kegelapan. Detik berikutnya aku memandang danau di depanku. Ada sesuatu berwarna putih keperakan yang berpendar di permukaannya yang tenang dan dingin. Butuh sepuluh detik bagiku untuk menyadari bahwa itu bukanlah sebuah benda melainkan pantulan benda lain di langit. Sedetik kemudian aku telah memalingkan pandanganku ke arah langit. Bulan. Ya, bulan putih keperakan yang besar bergantung anggun di langit. Indahnya membuatku tak bisa berkata apa pun. Sungguh indah kuasa Sang Pencipta. Itu sungguh hampir tidak dapat dipercaya. Dua menit lamanya aku mengagumi indahnya bulan malam itu. Semenit kemudian aku mengarahkan pandanganku 100 meter ke samping kiriku. Dia telah berpindah posisi. Aku bisa merasakan bagaimana dia pun mengagumi indahnya kuasa Sang Pencipta. Aku melihat rambut hitamnya berkilau tertimpa cahaya keperakan, wajah putihnya tampak bersinar di kejauhan. Aku pun tertegun, betapa selama ini aku tidak menyadarinya. Jantungku berdegup kencang, pipiku memanas.Seketika aku kembali memalingkan pandanganku ke arah danau di mana bayangan bulan menyilaukan mataku.
“Indah, bukan?”, katanya yang membuatku tersentak. “Ibuku pernah membawaku kemari beberapa tahun yang lalu. Di sini lah aku biasa merenung dan berpikir. Dan setiap tahunnya aku menikmati indahnya bulan sendirian. Kemudian aku bertemu denganmu dan aku ingin kamu juga menikmatinya.”, ceritanya sembari terus tersenyum. Mempesona bagaikan malaikat yang menjelma sebagai manusia. Aku hanya mengangguk dalam renunganku. “Kireii desu ne...”, gumamku pelan. Kemudian kami hanya menghabiskan setengah jam berikutnya dalam sunyi renungan.
Setengah jam kemudian aku menyadari pendar keperakan itu perlahan memudar. Aku sedikit kecewa memandangi permukaan danau yang mulai membeku itu. Namun dia telah berdiri di sampingku dan membisikanku sesuatu. “Tenanglah, akan ada sesuatu yang lebih cantik sebentar lagi.” Aku pun hanya mengangguk. Kemudian aku menunggu selama lima menit. Perlahan pendar keperakan itu berganti menjadi pendar warna yang baru. Hanya dalam waktu sepuluh menit kemudian pendar keperakan itu berganti menjadi pendar keunguan. Aku mengalihkan pandanganku ke langit. “Murasaki no Tsuki.”, ujarku tak bersuara. Tak sanggup aku menggambarkan indahnya bulan ungu malam itu. Setengah jam lamanya kami menikmati indahnya kuasa Sang Pencipta. Sampai permukaan danau yang memantulkan pendar keunguan itu setengah perjalanan dalam proses pembekuan.
“Ayo kita pulang, Nila.” Sejurus kemudian aku menyadari tangannya telah terulur di sampingku. Aku terperanjat melihat senyum teduhnya di antara pendar keunguan yang menimpa wajahnya, indah nan tampan. Tanpa berkata apa pun aku meraih tangannya dan bangkit mengikutinya berjalan perlahan meninggalkan pemandangan yang tiada duanya.
Mataku kembali mengerjap sejurus dengan kelebatan kenangan indah yang memudar itu. Aku tersentak saat aku kembali ke dunia nyata yang dingin menusuk. Aku sendirian di sini. Tidak ada tangan hangat yang menyalakan api unggun dan menemaniku menunggu terbitnya sang bulan.
Kuputuskan untuk melepaskan sarung tangan ungu bertuliskan "Murasaki no tsuki" dari telapak tangan kananku. Seketika udara dingin menusuk mematikan syaraf di ujung setiap jariku yang kian memucat. Kuambil amplop surat darinya yang kutemukan di meja kamarnya di villa pagi ini. Pagi di mana aku baru saja tiba kembali ke villa kenangan kami setelah dua tahun kami tidak kembali.
"Luna Nila, aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Tapi, maafkan aku. Maafkan aku yang selama ini telah berbohong di hadapanmu. Kesalahanku mungkin terlalu besar untuk dimaafkan. Aku tahu, selama ini aku salah. Namun, sadarkah kamu bagaimana aku menyayangimu? Aku tak ingin menyakitimu lebih dalam. Maka, izinkanlah aku pergi. Izinkanlah aku merelakanmu untuk menemukan seseorang yang jauh lebih pantas bersamamu. Maafkan aku."
Bersama surat perpisahan itu aku menemukan sarung tangan wol "Murasaki no tsuki" ini. Aku masih bisa merasakan bagaimana dia meletakkannya di meja itu setahun yang lalu. Setahun setelah pantulan sinar rembulan memukau mata kami di danau yang sama.
Baru kemarin. Baru kemarin aku mengetahuinya. Baru kemarin aku menyadarinya. Betapa bodohnya aku. Penantian selama dua tahun yang sia-sia. Aku sadar dia tak akan pernah kembali lagi meskipun hanya satu detikuntuktersenyum kepadaku. Penantian berurai air mata yang tidak ada artinya. Ingin rasanya aku menggapai rembulan malam ini. Membawanya masuk ke dalam relung hatiku yang hampa dan mati rasa. Air mata sudah tidak ada gunanya untuk mengusir gundah ini.
Perlahan jari tangan kananku menyusuri rerumputan beku di sampingku. Membiarkan sensasi syaraf yang berteriak mulai mati. Dapat kulihat dengan jelas betapa kukuku mulai memucat seiring berjalannya waktu. Dengan susah payah aku menyuruh jari-jari beku tangan kananku melepaskan sarung tangan "Murasaki no tsuki" dari jari-jari tangan kiriku yang mulai berteriak kedinginan. Aku pun hanya tersenyum pahit memandang sepasang sarung tangan di atas pangkuanku. Andaikan aku menyadarinya terlebih dahulu. Bodoh, betapa bodohnya aku.
Kembali aku memandang pantulan cahaya rembulan di danau yang sudah setengah membeku itu. Sembari melipat kembali surat darinya, aku tersenyum memandang ke arah gugusan-gugusan bintang malam ini. Terima kasih kalian telah setia menemani dan mengalah kepada sang rembulan malam ini untuk bersinar. Aku bersimpuh kembali menatap pantulan rembulan malam itu. Pantulannya perlahan berubah menjadi keunguan di atas lapisan tipis es yang rapuh. Sama seperti dua tahun lalu. Kini, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa memandang indahnya kuasa sang Pencipta malam ini. Mungkin besok, atau mungkin sampai danau ini selesai membeku